Kala Limbah Sawit Membuat “Lokan” Semakin Sulit Dicari dan Tak Lagi Nikmat

ilustrasi-lokan_20160410_120327

Sebagai kabupaten yang terletak di pesisir barat Sumatera, lokan menjadi ikon kuliner Mukomuko. Olahan lokan seperti rendang lokan dan sambal lokan juga menjadi menu yang dihidangkan oleh masyarakat Mukomuko pada saat acara hajatan dan pesta-pesta yang ada. Lokan telah menjadi bagian dari konsumsi masyarakat sejak turun-temurun. Bagi masyarakat luar yang berkunjung ke Mukomuko, rasanya ada yang kurang apabila tidak menikmati dan membawa rendang atau sambal lokan khas Mukomuko sebagai buah tangan.

Lokan (Polymesoda expansa) adalah sejenis moluska dwicangkerang yang banyak terdapat di lumpur pinggir laut dan di beberapa dasar sungai. Sungai Air Bikuk merupakan salah satu rumah bagi lokan. Masyarakat desa Air Bikuk, Kecamatan Pondok Suguh sejak dulu telah melakoni pekerjaan mengumpulkan lokan dari sungai Air Bikuk. Pekerjaan ini banyak dilakoni oleh ibu-ibu desa. Lokan yang mereka kumpulkan tersebut untuk dikonsumsi sendiri dan dijual. Selain mengumpulkan lokan, para ibu-ibu juga mengumpulkan sayur pakis yang tumbuh dipinggiran sungai. Para suami sesekali ikut mengumpulkan lokan dan menangkap ikan di sungai tersebut.

Tapi kini ada yang berubah pada lokan-lokan tersebut. Rasanya tak lagi senikmat dulu, ukurannya juga semakin kecil dan jumlah nya semakin sedikit. Ardi, Pemuda desa Air Bikuk menuturkan perubahan itu terjadi setidaknya dalam satu tahun terakhir. Tepatnya sejak sungai Air Bikuk tercemar. Pencemaran ini diduga akibat limbah kelapa sawit dari pabrik CPO milik PT. Daria Dharma Pratama (PT. DDP) Lubuk Bento.

Perusahaan diduga sengaja membuang limbah ke anak sungai Gambir lewat pipa-pipa siluman. Masyarakat menemukan pipa tersebut mengarah langsung ke anak sungai. Air di anak sungai itu berwarna hitam pekat, berminyak dan berbau. Jarak antara anak sungai ke sungai Air Bikuk tidak sampai satu kilometer. “Sungai Air Bikuk kini juga telah berwarna coklat” kata Ardi (26/10/2018).

“Jika pencemaran terus terjadi seperti ini, dipastikan masyarakat desa tidak lagi bisa mengumpulkan lokan, mencari ikan dan mencari sayuran dipinggiran sungai. Sekarang saja, lokan itu semakin sulit ditemui dan memang rasanya sudah beda dan berkurang enaknya” Nofriansyah turut membenarkan perubahan-perubahan yang diceritakan oleh Ardi sebelumnya.

Nofriansyah, Ardi dan beberapa masyarakat desa Air Bikuk lainnya beberapa kali melakukan gugatan-gugatan kepada PT. DDP untuk bertanggung jawab atas pencemaran yang telah mereka lakukan. Tetapi tidak ada tindakan nyata dari perusahaan untuk memulihkan sungai yang tercemar ataupun memperbaiki sistem operasional pabrik milik mereka. Bahkan hingga kini mereka masih menuntut perusahaan untuk bertanggung jawab. Juli 2018 lalu, masyarakat menemukan banyak ikan yang mati di sungai Air Berau. Kejadian tersebut adalah kali keempat.

Pihak perusahaan berdalih kalau pencemaran itu bukan disengaja, tetapi kesalahan teknis saat beroperasi. “Tapi masa kesalahan teknis atau kebocoran terjadi berulang kali? Dan kami juga menemukan pipa yang langsung mengarah ke anak sungai. Jelas-jelas PT. DDP tidak punya izin pembuangan limbah langsung ke sungai” tutur Nofriansyah.

Setiap kali masyarakat menemukan indikasi pencemaran sungai, mengambil sampel dan membawanya kepada dinas dalam hal ini Dinas Lingkungan Hidup, selalu ditolak. Alasan pengambilan sampel yang tidak memenuhi standar selalu menjadi permasalahan untuk melegitimasi dugaan pencemaran yang didokumentasikan oleh masyarakat. Pengaduan masyarakat tidak pernah  membuahkan hasil. Jika pun beberapa bulan yang lalu pihak Dinas Lingkungan Hidup melakukan uji sampel, hasilnya menyatakan bahwa sungai tidak tercemar.

“Kami sudah menebak pasti hasil ujinya menyatakan tidak tercemar. Wajar saja, mereka datang ambil sampel airnya setelah beberapa hari kami menemukan sungai tercemar” ucap Nofriansyah dengan suara meninggi.

Sungai Air Bikuk juga digunakan untuk mandi dan aktivitas domestik seperti mencuci dan masih ada juga untuk dikonsumsi. Setidaknya masih ada sekitar 50 kepala keluarga yang masih menggunakan air sungai Air Bikuk sebagai kebutuhan sehari-hari. Selain itu ikatan antara masayrakat dan sungai Air Bikuk cukup kuat, karena sejak turun-temurun sungai Air Bikuk memenuhi kebutuhan masyarakat di desa ini.

Sebagai masyarakat yang matapencahariannya sebagai pekebun dengan komoditi sawit, maka mencari lokan dan ikan adalah kerja-kerja subsisten mereka. Jika pun mereka menjual hasil dari mengumpul lokan, itu adalah bentuk kerja cadangan keluarga yang tidak sedikit menopang perekonomian setiap keluarga. Maka berkurang atau bahkan hilangnya populasi lokan dan ikan di sungai Air Bikuk akibat pencemaran limbah sawit akan berkontribusi cukup besar pada kerentanan subsistensi dan ekonomi keluarga masyarakat desa Air Bikuk.

Bahkan bisa jadi dikemudian hari olahan lokan sebagai kuliner turun-temurun masyarakat Mukomuko secara umum tidak lagi bisa disuguhkan menjadi hidangan saat acara-acara hajatan dan pesta-pesata di kampung.

Pencemaran Sungai Karena Limbah Sawit adalah Masalah Serius yang Harus Disikapi.

Direktur Genesis Bengkulu, Uli Arta Siagian menyatakan bahwa kasus-kasus pencemaran sungai akibat pembunagan limbah dari pabrik CPO Kelapa sawit adalah permasalahan serius yang harus ditangani oleh pemerintah.

Setidaknya berdasarkan hasil analisis informasi yang dilakukan oleh Genesis Bengkulu, dalam delapan tahun terakhir protes masyarakat terkait tercemarnya sungai yang diduga disebabkan oleh  pabrik CPO sering mencuat. Namun aksi protes dan pengaduan masyarakat terdampak tidak menjadi alasan kuat pemerintah untuk melakukan evaluasi terhadap perusahaan. Mulai dari kelengkapan perizinan serta ketaatan mereka dalam menjaga lingkungan serta hak masyarakat sekitar atas lingkungan yang bersih dan sehat.

“Seharusnya kasus-kasus pencemaran dan protes warga menjadi pekerjaan serius yang harus diselesaikan oleh pemerintah, baik kabupaten maupun provinsi. Dari beberapa kasus dugaan pencemaran oleh beberapa perusahaan, diindikasikan mereka tidak mengantongi dokumen izin lingkungan. Seperti kasus pencemaran oleh PT. Karya Agro Sawitindo (PT. KAS) terhadap sungai Bantal, Mukomuko Juli lalu. Beberapa kali masyarakat minta dokumen AMDAL tetapi tidak pernah mendapatkannya,” Tutur Uli.

“Bukan hanya itu, kasus pencemaran sungai Selali yang diduga dilakukan oleh pabrik CPO milik PT.  Sinar Bengkulu Selatan juga tidak memiliki izin pembuangan limbah, sama seperti kasus yang dialami oleh masyarakat desa Air Bikuk saat ini”.

Dia juga menambahkan kalau hampir seluruh masyarakat di provinsi Bengkulu bergantung kebutuhan sehari-harinya pada sungai. Secara historis masyarakat Bengkulu pasti memiliki relasi yang erat terhadap sungai. “Maka, membiarkan sungai-sungai terus dicemari limbah baik dari pabrik CPO kelapa sawit maupun aktivitas industri ekstraktif lainnya sama dengan memutus relasi yang telah terbangun sejak lama. Relasi sosial dan relasi ekologis antara masyarakat dan sungai bahkan tidak bisa dinilai secara material. Dia harus dijaga,” tambahnya.