Mandi Angin : Keindahan di Kawasan Hutan Tersisa

Sejak semalam (22/01/2018) hanya ada satu harapan  yang kami kirimkan lewat doa, agar hujan tidak turun. Pelintasan menuju air terjun Mandi Angin akan sangat berat untuk dilalui  jika hujan turun, meski hanya turun beberapa jam saja. Tanah merah akan sangat licin ditambah dengan tanjakan berkali-kali yang harus didaki.  Membayangkannya saja sudah tak enak, apalagi harus melaluinya.

Pukul 10.00 wib (23/01/2018), matahari dengan penuh percaya diri menanjak naik. Melihatnya,  membuat kami yakin untuk memacu motor naik ke wilayah atas  desa Air Berau yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan produksi terbatas  Air Ipuh II. Kami pergi berombongan, lima orang dengan tiga buah sepeda motor.

Menuju Mandi Angin harus melintasi konsesi perkebunan milik PT. Daria Dharma Pratama (DDP). Sekitar 348 hektar konsesi perusahaan ini masuk dalam administrasi desa Air Berau.[1] Sekaligus seluas 377 hektar kawasan hutan produksi terbatas Air Ipuh II ditanami kelapa sawit oleh perusahaan ini. Usia sawit ini sudah mencapai lima belas tahunan lebih. (baca : http://www.cumakita.com/infokita/empat-kaum-mendesak-penyelesaian-konflik-tenurial-akibat-pt-ddp/

 

Sepanjang pelintasan, mata akan dijejali dengan batang-batang sawit beragam ukuran. Bahkan di dalam kawasan hutan produksi terbatas Air Ipuh II pun, batang sawit telah mengambilalih ruang yang seharusnya dipenuhi dengan tegakan-tegakan pohon yang beraneka ragam. Dibanyak titik, hamparan pohon meranggas dan bertumbangan membuat hati lara melihatnya.

Di Kabupaten Mukomuko secara umum, sawit menjadi candu. Pecandunya beragam, mulai dari pemodal dengan konsesi ribuan hingga puluhan ribu hektar. Elit-elit pemerintah, anggota dewan, elit kepolisian, pegawai negeri hingga masyarakat biasa. Menanamnya bukan sebatas dilahan budidaya tetapi hingga ke dalam kawasan hutan.

Menjadi wajar kemudian jika Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Mukomuko merilis data kerusakan hutan produksi terbatas mencapai 56% lebih, atau seluas 37,9 ribu ha dari 63 ribu hektar. Selain itu kerusakan hutan produksi tetap mencapai 63%, atau 7,6 ribu hektar dari 11 ribu hektar.[2] Data ini semakin membuat lara di hati kami memuncak.

Setelah menempuh satu jam waktu perjalanan, kami tiba di titik akhir sepeda motor tidak bisa melintas. Kita harus berjalan kaki menyusuri hutan dengan kerapatan pepohonan yang masih cukup baik. Ketinggian pohon beragam, mulai dari 30 meter, 40 meter, dan 50 meter. Dengan kondisi tanah yang bebatuan, tidak banyak pohon yang berukuran besar.

hutan

Selain jenis pepohonan besar, di kawasan ini juga banyak ditemukan tumbuhan pasak bumi (Eurycoma longifolia). Seluruh bagian tubuh dari tumbuhan yang banyak ditemui di belantara Sumatera dan Kalimantan ini memiliki banyak kasiat bagi kesehatan. Mulai dari akar, kulit batang, daun, bunga dan biji nya.

Kontur yang terjal dengan kemiringan mencapai 70o– 80o serta pelintasan yang hanya setapak saja membuat kita harus selalu tangar saat melangkah. Jika tidak, kita bisa terpeleset dan jatuh ke  jurang. Meski begitu, kami tetap menyusurinya dengan gembira.

Pohon-pohon yang berdiri tegak atau yang melandai menjadi pegangan untuk melangkah turun. Sesekali hanya ada akar pohon yang berukuran sedang dan kita harus bergantung untuk perlahan turun atau pun naik.  Ini keadaan lazim  untuk  kawasan hutan.

Dua puluh menit menyisiri hutan, suara air semakin jelas terdengar. Menjadi penanda kalau perjalanan hanya tinggal beberapa langkah saja.

Yah, berjalan lima menit aliran sungai yang melewati bebatuan di tengah dan pinggir terlihat.  Air terjun terlihat, dia menyambut dengan begitu indah. Ketinggiannya membuat terpanah, suaranya seolah memanggil untuk datang lebih dekat lagi. Mengalir ditengah-tengah cadas yang terlihat kokoh sekali. Cadas-cadas ini seperti selalu siap mengawal aliran air yang jatuh ke bawah. Sekeliling air terjun masih lestari, hijau dedaunan dan tumbuh-tumbuhan menambah puas pengelihatan.

IMG_20180123_070411_523

Setelah melihat dan merasakan langsung sekeliling air terjun, kami baru bertanya serius kepada masyarakat lokal yang ikut bersama kami. Mengapa Mandi Angin nama untuk air terjun ini?. Ternyata nama Mandi Angin diberikan oleh masyarakat sekitar lantaran hempasan angin atau percikan air dari air terjun ini akan terasa meski kita berdiri di jarak 20 meter. Kami juga beranggapan Mandi Angin adalah nama yang cocok.

Air terjun dengan ketinggian 125 meter ini terus memanggil agar kita mendekatinya. Mungkin maksudnya agar kami berdiri tepat dibawah alirannya dan merasakan sensasi dari hempasan aliran air tersebut.

Tetapi kali ini kami memilih untuk tidak mandi atau menikmati sensasi itu. Tiga puluh menit merasakan kenikmatan yang ditawarkan kawasan ini dan menghilangkan lelah, kami menyepakati untuk kembali naik ke atas. Kami takut hujan tiba-tiba turun. Kemungkinan itu besar terjadi ditengah-tengah kondisi cuaca yang tidak menentu seperti sekarang ini. Kami sangat bisa membayangkan bagaimana perjalanan pulang kami menuju desa jika hujan turun.

Kami naik, perjalanan mendaki kontur yang terjal dengan kemiringan mencapai 70o hingga 80o itu cukup membuat lutut dan betis terasa pegal. Lelahnya lebih besar ketimbang turun. Dibeberapa pendakian kami memilih untuk berhenti sebentar, beristirahat, menarik nafas dalam-dalam, menikmati degupan jantung yang begitu kencang, serta merasakan kucuran keringat yang begitu cepat.

Sama seperti turun, perjalanan mendaki pun hanya butuh sekitar tiga puluh menit untuk sampai ke tempat dimana kami meninggalkan motor.

air terjun

Setelah sampai diatas, kami berhenti beberapa menit di tempat dimana kami bisa melihat dengan jelas pohon-pohon meranggas dan gundul. Air Terjun Mandi Angin beserta sekelilingnya yang indah itu adalah keindahan dari hutan yang masih tersisa.

 

 

 

[1] Data Genesis Bengkulu;diolah.

[2] http://harianrakyatbengkulu.com/ver3/2016/07/05/48-656-ha-hutan-rusak/ diakses pada 22 Januari 2018.