Genesis : 70 Persen Lahan Budidaya Dikuasai Investor

upload
Genesis Bengkulu mengyebutkan bahwa 70% lahan budidaya di kabupaten Mukomuo telah dikuasai hanya oleh 9 perusahaan perkebunan skala besar dengan total luasan keseluruhan HGU 72.469,71 ha (data BPN;2015).
 
Direktur Genesis Bengkulu, Uli Arta Siagian mengatakan bahwa ketimpangan penguasaan lahan ini akhirnya membuat ruang kelola rakyat semakin menyempit. Penyempitan ruang kelola ini membuat perubahan corak produksi rakyat, dari petani atau pekebun di lahan milik sendiri, berubah menjadi buruh di perusahaan.
 
“Kalau kami melihat ekspansi sawit di kabupaten Mukomuko hingga saat ini membuktikan corak ekonomi yang dibangun oleh pemerintah sangat bergantung pada investasi, khususnya disektor industri ekstraktif : perkebunan skala besar dan pabrik CPO. Ekspansi ini berdampak pada ketimpangan kepemilikan lahan, antara rakyat dan para pemodal”.
 
Secara umum, hampir di semua wilayah di kabupaten Mukomuko telah ditanami kelapa sawit. Candu terhadap sawit saat ini tidak lagi memandang kelas sosial, mulai dari masyarakat petani biasa, aparatur sipil negara, wakil rakyat dan lain sebagainya, hingga para pemodal.
 
Dikatakannya, perkebunan kelapa sawit jelas berdampak pada lingkungan. Menurutnya, Konsesi-konsesi perkebunan kelapa sawit dan lahan perkebunan rakyat berada di bagian hulu wilayah kabupaten Mukomuko yang merupakan wilayah tangkapan air dan punya fungsi pengatur tata air. Secara fisiologi kelapa sawit memiliki akar serabut, sehingga limpahan air hujan tidak mampu diserap oleh tanah dan hanya mengalir di daratan menuju sungai. Kelapa sawit juga memiliki sifat menyerap cadangan air bawah tanah ketika musim kemarau.
 
“Maka banjir di beberapa wilayah di kabupaten Mukomuko sperti desa Sungai Gading, kecamatan Selatan Raya dan beberapa wilayah lainnya menjadi konsekuensi logis dari massifnya perkebunan kelapa sawit”. Pernah satu kali kami mengadakan pertemuan kampung di desa Lubuk Bento. Kami meminta masyarakat menuturkan perubahan apa yang mereka alami terkait dengan Air, saat sebelum sawit massif dan setelah perkebunan sawit massif. Mereka menuturkan dulu sebelum sawit massif hanya butuh kedalam 4 meter menggali sumur sudah ketemu air, sekarang butuh 12 sampai 14 meter baru air ketemu” paparnya.
 
Jika melihat peta jaringan/aliran sungai di kabupaten Mukomuko, hampir seluruh sungai bermuara ke lepas pantai dan hampir seluruhnya melilit wilayah kota Mukomuko. Hulu sungai tersebut saat ini telah banyak yang berubah menjadi kebun-kebun kelapa sawit yang sudah barang tentu akan merusak sistem tata air sungai. Kondisi ini menjadi ancaman bencana bagi kota Mukomuko, karena ketika tata air rusak, maka potensi banjir dan longsor akan semakin besar.
 
Selain itu kata Uli, keberadaan pabrik CPO di daerah ini juga menimbulkan dampak besar terhadap lingkungan, terutama sungai. Ia menyebutkan, 10 tahun terakhir banyak ditemukan berbagai kasus dugaan pencemaran lingkungan yang diadukan oleh masyarakat seolah-olah diperhadapkan dengan jalan buntuh. Sebaliknya, tidak ada ketegasan dari pemerintah kabupaten Mukomuko.
 
Beberapa contoh kasus pencemaran terakhir ini adalah pencemaran yang terjadi di tiga desa di Pasar Bantal. Sungai Bantal diduga tercemar oleh limbah pabrik PT. Karya Agro Sawitindo (KAS) dan pencemaran sungai Air Bikuk yang diduga akibat pabrik CPO PT. DDP.
 
“Terkait hal itu, Genesis Bengkulu pernah menyurati DLHK Provinsi Bengkulu untuk melakukan evaluasi terhadap perizinan pabrik CPO yang ada di provinsi Bengkulu, karena jika kasus-kasus pencemaran ini terus terjadi akan semakin banyak sungai yang rusak dan tercemar. Padahal rakyat memiliki relasi yang kuat dengan sungai, secara turun-temurun”, pungkasnya.
 
Harian Surat Kabar Radar Mukomuko, Rabu 28 November 2018, Hal 7.