Bergantung Pada Enau Di Pinggiran TNBBS

Matahari perlahan naik, pagi itu udara terasa segar. Sekira pukul 09.00, pak Sofyan terlihat siap dengan dua bangkol[1] berisi bumbung atau wadah tempat menampung air nira yang akan disadap nya. Seperti hari biasaya, setiap pagi pak Sofyan memanjat lima batang pohon Enau yang ia miliki. Lalu pada sore hari, iya akan kembali memanjat pohon yang tinggi nya mencapai 10 hingga 20 meter tersebut.

Hasil panen air nira milik pak Sofyan dijual setiap minggunya dengan mendapatkan uang sebesar Rp 400.000. Selain memiliki lima batang pohon Enau, keluarga pak Sofyan juga bergantung dari hasil memanen damar. Dalam satu bulan pak Sofyan mendapatkan sebesar Rp 200.000 dari penjualan hasil panen damarnya yang berjumlah sepuluh batang, itu pun jika damar milik pak Sofyan tidak dicuri orang lain.

Seluruh kebutuhan keluarga Sofyan, mulai dari kebutuhan pangan hingga kebutuhan kuliah anak nya yang baru memasuki semester dua, seluruhnya bergantung dari hasil panen nira dan damar. Berbeda dengan tetangga nya yang lain, yang hitungan damar nya mencapai 100 atau 300 batang. Seperti kepala desa Tanjung Ganti yang memiliki kebun damar seluas 3 ha.

Bukan hanya Sofyan, 90% masyarakat desa Tanjung Ganti sangat bergantung pada hasil alam. Mereka bertani sawah serta berkebun dengan komoditi utama damar, enau, kopi, duku, dan durian. Jika sedang musim duku, hasil panen mereka dapat mencapai 15 ton per hari. Damar dapat mencapai 100 kg bulan.

Ada juga masyarakat yang menanam lada, tetapi saat ini tanaman lada milik mereka mulai banyak yang mati. Hal ini disebabkan oleh adanya hama/parasit yang berbentuk jamur tubuh dibagian bawah atau atas batang. Lada mati perlahan diserang oleh hama tersebut. Begitu juga dengan tanaman kakao, yang diserang oleh hama dan kemudian mulai ditinggalkan oleh masyarakat.

Sebagai desa yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan disebelah Utara nya, desa ini masih cukup bergantung pada tanaman yang masuk dalam jenis tanaman hutan. Meski memang, setelah PT. Ciptamas Bumi Selaras (CBS) datang berbekal SK bupati kabupaten Kaur sejak tahun 2010 yang lalu dengan HGU seluas 10.000 ha (BPN:2011). Sejak itu lah masyarakat mulai mengenal tanaman sawit. 2015 lalu, anak perusahaan Ciputra Group ini menawarkan sistem plasma kepada masyarakat desa.

Saat ini PT. Ciptamas Bumi Selaras semakin mengekspansi ruang kelola rakyat, kondisi ini membuat cukup banyak masyarakat yang dahulunya bertanam tanaman yang tergolong dalam tanaman hutan beralih menanam sawit dengan ikut dalam skema plasma yang ditawarkan perusahaan.

Keluarga yang menyerahkan lahan nya untuk diplasmakan akhirnya menjadi penyedia jasa atau buruh dilahan mereka sendiri. Suami mereka ada yang menjadi mandor ataupun buruh harian lepas dengan pekerjaan menebas, tetapi untuk ibu-ibu hanya bekerja sebagai buruh untuk membersihkan lahan. Ibu – ibu yang bekerja di PT.CBS, mereka di fasilitasi angkutan oleh pihak PT yang berfungsi untuk menjemput setiap hari Minggu sore dan mengantar pulang lagi ke desa pada hari jumat sore.

Kondisi ini akan menyebabkan semakin banyak masyarakat yang mengganti komoditi tanaman mereka. ekspansi perusahaan yang semakin massif itu juga nantinya dapat menjadi pemicu masyarakat masuk kedalam kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan lantaran ruang kelola mereka telah dikuasai oleh perusahaan.

[1] Bangkol adalah alat untuk membawa bumbung/wadah penampung air nira ke atas pohon enau.