Rencana Pembangunan PLTU 200 Megawatt (Mw) adalah Upaya Penghancuran Sumber-Sumber Kehidupan Rakyat Di Provinsi Bengkulu

13242286_1106051262750715_1815263279_oPresiden Joko Widodo meresmikan peluncuran program 35.000 Mega Watt Listrik untuk Indonesia yang dipusatkan di Goa Cemara kawasan pantai Samas di Bantul, dengan peluncura perencaan program energi sebesar itu, Banyak orang terkesima dengan besaran angka 35.000 MW  tersebut. Bagaimana  membangun pembangkit sebesar itu, Pemeritah pusat Kebutuhan energi 35.000 MW ini merupakan pekerjaan raksasa.  Dalam kurun waktu sejak pencanangn program itu. Bakal dibangun 291 pembangkit, 732 transmisi, dan pembangunan 1.375 unit gardu induk.

Dari 35.000 megawatt (MW) yang  direncakan oleh pemerintah 25.000 megawatt akan berasal dari batu-bara sisanya akan mengunkan dari energi fosil lainya, termasuk dari potesial geothermal yang ada, artinya rencana kebutuhan energi yang besar ini akan tidak jauh dari pada sebelumnya.

Potensi Batu Bara Bengkulu

Berdasarkan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral ESDM provinsi Bengkulu (2009) menyatakan bahwa ketersediaan batubara di provinsi Bengkulu sebesar 82.216.328 ton. sejak tahun 1989 hingga 2015 sebanyak 27.121.328 ton batubara telah dikeruk, artinya saat ini yang tersisa dari potensi yang terkandung di provinsi Bengkulu hanya 55.095.00 ton, dari total petensi batu bara yang ada berada pada wilayah cekungan dan berada pada wilayah sepanjang bukit barisan.

Berkaitan dengan rencana pembangunan PLTU 2 X 100 Megawatt yang di cadangkan oleh provinsi Bengkulu yang mana aktifitas PLTU ini membutuhkan batu bara 1 juta ton pertahun artinya dengan sisa potensi cadangan Provinsi Bengkulu hanya 55.095.000 sedangkan produksi batu bara Bengkulu pertahun asumsinya mencapai  4 juta ton pertahun artinya cadangan ini hanya bisa bertahan sampai dengan 14 tahun yang akan datang, sedangkan rencana pengelolaan PT. Tenaga Listrik Bengkulu (CEO PT Intraco Penta) yang berasal dari Tiongkok akan mengelolah PLTU ini secara mandiri selama 25 tahun setalah itu baru di serahkan kepada pemerintah, pertanyaan selanjutnya untuk memenuhi aktifitas  PLTU akan mengambil dari daerah lain.,,???

Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) menjawab krisis listrik di propinsi Bengkulu

Penandatanganan nota kesepahaman pembangunan PLTU antara PT. Tenaga Listrik Bengkulu (CEO PT Intraco Penta) yang berasal dari Tiongkok dengan pelindo II Jakarta menjadi cara bagi pemerintah untuk menjawab krisis listrik di provinsi Bengkulu. Pembangunan PLTU menjadi bukti bahwa provinsi Bengkulu secara khusus, dan Indonesia secara umum belum dapat lepas dari energi fosil batubara yang kotor dan tidak ramah lingkungan.

Pembangunan PLTU dengan daya 200 MW merupakan sebuah skenario penghancuran kawasan hutan yang masih tersisa dan. Hal ini dibuktikan dengan salah satu isi perjanjian nota kesepahaman bahwa PT. Tenaga Listrik Bengkulu (CEO PT Intraco Penta) akan mengelolah PLTU selama 25 tahun dan setelah kontrak pengelolaan itu habis akan diserahkan kembali kepada pemerintah.

Kebutuhan PLTU yang akan mulai beroperasi pada tahun 2020 ini adalah 1 juta ton pertahun.  Maka sebanyak 25 juta ton batubara akan dikeruk oleh pengusaha Tiongkok selama 25 tahun kedepan, sedangkan ketersediaan batubara di provinsi Bengkulu hanya sekitar 55 juta ton lagi. Dengan kata lain pemerintah hanya bisa mengelola PLTU dalam 30 tahun saja, karena batubara telah habis.

Jika disandingkan dengan muatan Nota kesepahaman antara PT PELINDO II Jakarta dengan PT Bengkulu Energy, dimana PT Energi akan mengelola PLTU ini selama 25 tahun, maka dapat disimpulkan bahwa PLTU ini akan dijual kepada PLN setelah menjadi besi tua dan bahan bakar (batubara) yang sudah menipis.

Pengahancuran Sumber-Sumber Keidupan Rakyat Bengkulu

Bengkulu dengan luas 1.9 juta hektar, 924 ribu ha adalah kawasan hutan yang meliputi sepanjang Bukit Barisan. Dari sisa wilayah APL yang tersisa Hal 557.423 ha wilayah itu sudah dikuasai dan dibebani oleh IUP Pertambangan yang berjumlah 64 IUP pertambangan batubara, 39 izin usaha pertambangan (IUP) batubara yang ada terindikasi masuk ke dalam kawasan hutan dengan total luasan mencapai 118.738,78 ha (Dirjen Planologi,KLHK).

Dengan rencana pengerukan pembangunan PLTU yang artinya akan membutuhkan batu bara yang cukup banyak, sedangkan potensi 55.095.000 ton batu bara saat ini berada pada kawasan genting dan penting seperti di wilayah sepanjang kawasan bukit barisan yang mana wilayah ini menjadi kawasan kunci masyarakat di hilirnya, kalau kawasan ini hancur !!!

Akan merubah siklus alam yang saat ini berlangsung hilang yang  akan berpengaruh ratusan hektar sawah karena mengantungkan pada wilayah ini ? ada 130 sungai dan anak sungai tergantung pada kawasan ini, artinya dengan kehancuran ini akan membuat masyarakat Bengkulu jauh dari kata kemakmuran !!!

Kenapa Investor Tiongkok?

Investor yang akan membangun PLTU di provinsi Bengkulu berasal dari Tiongkok. Menjadi pertanyaannya adalah kenapa harus investor Tiongkok yang membangun PLTU di provinsi Bengkulu?

Kita tahu bahwa Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir berkomitmen untuk meninggalkan pemakaian energi kotor batubara. Berdasarkan data yang dipublikasikan oleh Dewan Listrik Cina (China Electricity Council), jumlah energi yang dihasilkan dari bahan bakar fosil pada tahun 2014 di Tiongkok dari tahun ke tahun berkurang 0,7% dan ini merupakan penurunan pertama selama beberapa waktu. Sementara itu produksi energi yang berasal dari sumber energi bahan bakar non-fosil meningkat 19%. Tiongkok juga lebih memperbesar investasi hijau ketimbang sumber energi bahan bakar fosil. Tren Tiongkok saat ini adalah menggunakan sumber daya surya, air, dan angin untuk memenuhi kebutuhan listrik di negara mereka.

Lalu mengapa Tiongkok membangun PLTU di Bengkulu? Sedangkan di negara mereka, mereka sudah meninggalkan energi kotor batubara (fosil). Asumsi yang dapat dipaparkan dari fakta tersebut adalah:

  1. para pemain batubara mulai kehilangan wilayah kerja. Sementara pembangunan PLTU adalah investasi yang menguntungkan dari sisi ekonomi. Apalagi di Indonesia secara umum dan propinsi bengkulu lebih khusus bahwa penegakan hukum atas kejahatan lingkungan masih merupakan jargon
  2. Investasi fosil sekarang ini sedang mengalami titik nadir kebangkrutan. Dampak penggunaan bahan bakar fosil secara nyata telah membuat planet bumi menjadi wilayah yang rentan. Tingkat kesadaran manusia yang sudah mulai membaik membuat bahan bakar fosil mulai bergeser menjadi energi alternatif.

Bengkulu Punya Potensi Energi Terbaharukan Sebagai Jawaban Krisis Listrik.

Sebagai wilayah pesisir dan diapit oleh Bukit Barisan, Bengkulu memiliki banyak potensi energi terbarukan untuk menjawab kebutuhan listrik.

Bengkulu punya 130 sungai dan anak sungai yang masih bisa dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik untuk memenuhi kebutuhan listrik rakyat Bengkulu. Keselamatan kawasan hutan adalah jaminan terjaganya debit air sebagai sumber pembangkit listrik tenaga air.

Selain itu panas bumi juga menjadi salah satu energi terbaharukan yang banyak dilirik. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam bahwa potensi gheotermal di Indonesia terdapat di 244 lokasi. Keberadaan gunung-gunung api yang banyak di Indonesia menjadi salah satu dasar potensi geothermal tersebut.

Tentunya pembangkit listrik tenaga panas bumi juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Beberapa kelebihan dari panas bumi (geothermal energy) adalah pembangkit listrik panas bumi merupakan salah satu sumber energi paling bersih. Jauh lebih bersih dari sumber energi fosil yang menimpulkan polusi atau emisi gas rumah kaca. Dengan memamfaatkan potensi panas dari dalam bumi, geothermal tergolong energi terbarukan yang relatuf tidak akan habis. Energi Geothermal tidak menyebabkan pencemaran udara dan tidak menghasilkan emisi karbon.

Salah satu kekurangan dari pembangkit listrik tenaga panas bumi adalah pembiayaan nya yang besar. Selain itu energi panas bumi juga diduga dapat mempengaruhi kestabilitasan tanah disekitarnya.

Di Provinsi Bengkulu setidaknya ada 5 titik potensi geothermal (badan Geologi). Dari lima titik potensi itu baru 1 titik yang sedang dalam proses pembangunan yang dilakukan oleh PT. Pertamina Geothermal Energy (PGE). Proses pembangunan PLTP ini berada di akawasan hutan lindung Bukit Daun.

Berdasarkan argmen yang sudah dipaparkan maka  kami menyatakan bahwa

  1. PLTU sebagai sumber energi listik di Bengkulu adalah tindakan yang tidak memperhatikan kaidah-kaidah keselamatan lingkungan, tidak mengikuti perkembangan pengetahuan dan yang paling utama adalah meningkatkan kerentanan rakyat baik dari sisi sosial, penyakit dan serta dalam jangka panjang akan mengganggu stabilitas politik propinsi Bengkulu.
  2. Pilihan PLTU sebagai penjawab krisis listrik dibengkulu adalah sebuah tindakan ceroboh dan terkesan dipaksakan. Hal ini dapat dilihat dari potensi batubara Bengkulu yang sedikit Sementara potensi lain sekarang masih belum digunakan secara optimal.

Menjadi sangat penting untuk berkaca kepada dampak-dampak yang telah ditimbulkan oleh PLTU yang selama ini terjadi. Jika Negara lain seperti china yang sudah mulai meninggalkan batubara mengapa justru pemerintah propinsi Bengkulu malah menerima dengan sukacita adanya PLTU dibumi raflesia ini.

Counter Statement Terhadap Rencana Pembangunan PLTU.

Oleh : WALHI Bengkulu dan Genesis Bengkulu.