Rakyat Ketenong Serta Daya Rusak PT. Jambi Resources.

baru
sumber foto : Yayasan Genesis Bengkulu

CumaKita, Ketenong adalah satu desa yang terletak di Kecamatan Pinang Belapis, Kabupaten Lebong. Desa Ketenong saat ini terbagi menjadi dua desa yaitu Ketenong I dan Ketenong II. Kabupaten dengan 70% luasannya merupakan kawasan konservasi menjadikan setiap desanya berbatasan langsung dengan Taman Nasional Kerinci Seblat, Hutan Lindung Bukit Daun, serta Cagar Alam.

Meski menjadi kabupaten konservasi secara geografis, kabupaten ini juga tidak luput dari eksploitasi serta pengerusakan. Eksploitasi kekayaan alam dengan melakukan aktivitas pertambangan mendatangkan daya rusak yang tidak dapat terkendalikan. Masyarakat Ketenong mulai mengalami daya rusak akibar kegiatan pertambangan PT. Jambi Resources.

Sesuai dengan data yang dimiliki oleh yayasan Genesis Bengkulu, PT. Jambi Resources mengantongi SK bupati no 212 tahun 2013 dengan luasan konsesi 535 hektar, IUP Operasi Produksi. Sedikit napak tilas perjalanan PT. Jambi Resources dari hasil wawancara yang dilakukan oleh tim investigasi Genesis dengan kepala desa Ketenong II, pak Siran. Pada tahun 2008 perusahaan ini mulai masuk ke desa dengan melakukan survei lahan, hingga tahun 2010 keluar IUP Eksplorasi untuk perusahaan ini. Tiga tahun melakukan kegiatan eksplorasi akhirnya nya pada tanggal 15 November 2013 perusahaan mendapatkan SK bupati untuk dapat melakukan kegiatan Operasi Produksi.

Masuknya nya tambang, dimulai lah cerita tentang nasib rakyat oleh daya rusak tambang. Terdapat dua sungai yang telah rusak akibat aktivitas pertambangan di desa ini. Sungai itu adalah sungai Air Mangub dan sungai Air Udik. Sungai Air Mangub yang melintasi desa ini 100% peruntukannya untuk mengairi lahan persawahan serta untuk kebutuhan sehari-hari.

“Tercemarnya sungai-sungai ini serta penurunan debit air terjadi setelah pertambangan masuk, sebelumnya konsisi sungai normal” ujar Pak Siran.

Sungai Udik rusak dikarenakan pemamfaatan nya oleh perusahaan untuk mencuci batubara, pak Siran juga mengatakan bahwa limbah pencucian itu langsung di buang ke sungai tersebut. Akibat rusaknya sungai-sungai tersebut, masyarakat mengalami krisis air bersih.

Selain kerusakan sungai, perusahaan ini juga disinyalir melakukan perambahan di kawasan Taman Nasional Kelinci Seblat (TNKS). “Pernah ada kejadian tertangkapnya sebuah mobil dum truck yang membawa kayu dengan modus mengangkut batu bara tapi yang dibawanya ternyata kayu-kayu sudah dipotong yang berbentuk balok” kata pak Siran.

Selain daya rusak lingkungan, kehadiran tambang ini juga menambah panjang deretan derita yang harus dirasakan masyarakat. Suara mesin-mesin yang bising sampai pada larut malam membuat masyarakat tidak nyaman untuk beristirahat. Ditambah lagi lalu lalang orang-orang yang kian ramai meningkatkan kasus kriminal, pencurian motor salah satunya. Sebelum masuknya perusahaan ini desa Ketenong merupakan desa yang aman, tidak pernah terjadi pencurian. Namun sekarang pencurian motor kian marak terjadi.

Daya rusak tambang juga mengakibatkan konflik lahan antar warga dan antar perusahaan. Perusahaan membentuk masyarakat bersifat transaksional. Tawaran harga tanah yang cukup tinggi ditambah keadaan perekonomian yang tidak kunjung membaik, pilihan menjual tanah adalah tepat bagi masyarakat. Masyarakat desa Ketenong dominan tidak memiliki Surat Keterangan tanah atas tanah yang mereka miliki sehingga masing-masing orang mengakui memiliki hak atas tanah yang berada di sekitar konsesi pertambangan. Saling mengakui kepemilikan atas tanah itu lah yang menyebabkan konflik antar sesama warga serta warga dengan perusahaan.

Kehadiran tambang serta daya rusaknya kian mengancam keberadaan masyarakat serta keseimbangan ekologis. Seolah membuang kotoran dan tidak dibersihkan, reklamasi pun tidak dilakukan. Lobang-lobang bekas galian tambang masih mengangah lebar seakan siap untuk menerkam masyarakat Ketenong. Tanpa disadari masyarakat ketenong terkepung. Berada disekeliling tambang serta kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Tanah-tanah kian banyak yang terjual, ruang kelolah semakin menyempit, kawasan TNKS terancam.

IMG_20150211_111744
sumber : Yayasan Genesis

Kehadiran tambang juga tidak memperbaiki keadaan perekonomian masyarakat. Masyarakat juga hidup dalam kemiskinan. Hanya segelintir orang saja yang dipekerjakan oleh perusahaan, dan itu pun hanya sebagai karyawan harian atau sebagai satpam. Perusahaan memperkerjakan masyarakat setempat apalagi sebagai satpan hanya sebagai alat pembungkaman masyarakat.

PT. Jambi Resources serta daya rusaknya mengancam keselamatan masyarakat dan lingkungan, termasuk Taman Nasional Kerinci Seblat.